Teknologi IkhlasŪ

Holistic Health
Spirituality
Enlightened Human Capital
 

HOLISTIC SUCCESS

Suara Pembaruan
Chic
Koran Tempo
Femina
Forum
FIT




SUARA PEMBARUAN

(16 November 2006)

"MindFocus!" Pintu Menuju Sukses

Pelatihan MindFocus yang diikuti Rifki Rizal dirasakan dapat diterima dengan akal sehatnya. Lewat Katahati Institute, wartawan Trans TV itu mengaku banyak belajar tentang pentingnya relaksasi dalam pengendalian pikiran agar bisa mencapai keikhlasan dalam dirinya.

Sebelum mengikuti pelatihan itu, Rifki mengaku telah menerapkan metode relaksasi saat akan mengungkapkan keinginannya kepada Sang Pencipta. Pasalnya, dia percaya bahwa saat dalam kondisi tenang dan tidak terburu-buru, doa-doanya akan lebih cepat dikabulkan Tuhan.

"Aku sudah mempraktikkan itu, kebetulan aku punya suatu penyakit yang selama ini sudah sering aku minta untuk sembuh. Ternyata sehari setelah aku mempraktikkan cara-cara yang diajarkan dalam pelatihan MindFocus, di mana aku berdoa dalam kondisi hati ikhlas dan khusyuk, penyakitku kini sudah sembuh," ujarnya, baru-baru ini.Keikutsertaannya dalam pelatihan MindFocus, kata Rifki, lebih sebagai suatu usaha dalam pencarian spiritual. Keingintahuannya tentang pelatihan itu membuatnya berusaha mencari tahu tentang metode yang diterapkan Katahati Institute.

Sementara bagi Peter Djatmiko, pelatihan yang diterapkan Katahati Institute menarik perhatiannya karena disajikan secara ilmiah. Meski penjelasan yang diberikan tak pernah lepas dari konsep Ketuhanan, tapi para instruktur di Katahati Institute menyampaikanya secara scientific.

"Buat saya pelatihan seperti ini menarik dan sangat bagus, terlebih materinya dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Sebab, meski apa yang dijelaskan bersifat abstrak tapi mereka menjelaskannya seŽcara ilmiah. Karena kalau tidak, bagi mereka yang tidak mengerti akan bisa menganggap apa yang diajarkan oleh Katahati sebagai sesuatu yang mistik," ungkap Direktur di salah satu perusahaan teknologi informasi di Jakarta itu.
Menurut Peter, pelatihan pengendalian pikiran untuk mencapai keikhlasan yang telah dipelajarinya itu sangat berguna untuk pengembangan pribadinya. Dengan memiliki kepribadian yang baik, Peter berharap akan lebih bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang pimpinan di perusahaan tempatnya bekerja.

Bagi ahli bedah Ihyan Amri, pelatihan MindFocus! penting untuk melatih dan meningkatkan konsentrasinya terutama saat bekerja. Sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit di Kalimantan Timur, yang juga menjalankan usaha di bidang pemasaran produk kesehatan, Ihyan juga merasa perlu mendalami pelatihan ini untuk mempermudah langkahnya menuju berbagai tujuan hidup yang ingin dicapainya.
"Dalam pelatihan ini kita diajarkan untuk bersikap ikhlas dalam menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Kita dilatih untuk mengendalikan pikiran sehingga hidup terasa lebih damai dan terarah," ujarnya.

Menurutnya, pelatihan seperti ini sangat penting terutama bagi mereka yang ingin mencapai kesuksesan lahir dan batin. [Y-6]




FORUM Keadilan

(Januari 2005)

MENYINGKAP RAHASIA ALAM BAWAH SADAR

Otak sadar manusia layaknya bongkahan gunung es yang muncul di permukaan. Selebihnya berupa alam bawah sadar yang memiliki kekuatan maha dahsyat. Banyak keberhasilan bisa diperoleh dari mengelola alam bawah sadar.

Pernahkah kita berpikir sejauh mana kemampuan otak kita? Yang kita pahami selama ini, kemampuan otak kita hanyalah secara analistik, namun kiŽta tak pernah menyadari bahwa kemamŽpuan otak manusia tak hanya sekedar analistik. Ada banyak hal yang bisa diungkapkan dalam otak.

Secara garis besar, otak manusia terbagi dalam dua bagian, otak kanan dan otak kiri. Otak kiri memproses segala macam angka, matematika, bahasa, hitung-hitungan dan sebagainya. Sementara otak kanan, memproses segala macam keindahan, tata kata tak lagi tersusun secara verbal. Musik dan warna-warna indah adalah basil kerja otak kanan.
Hanya sebatas itukah otak kita? Tidak. Laiknya gunung es yang muncul di perŽmukaan, yang tampak hanya 12 persen saja, 88 persen sisanya masih tenggelam di dalam lautan. Yang 12 persen itu dise-but sebagai alam atau pikiran sadar (conscious mind). Sisanya, 88 persen, disebut alam bawah sadar (subconsious). Antara alam sadar dan bawah sadar dibatasi se-buah garis filter yang disebut reticular activating system. Garis ini berfungsi melindungi manusia dari informasi-inforrnasi yang tak perlu, sehingga seseorang tetap terlihat sadar dan waras. Nah, selama ini, kemampuan otak yang digunakan oleh manusia hanya 12 persen, sisanya tenggelam dalam diri kita.

Bayangkan, dengan 12 persen dari keseluruhan otak manusia, kita sudah sedemikian hebat. Bisa hitung-hitungan, bisa menelorkan gagasan-gagasan managemen yang begitu spetakuler, mampu menghasilkan sebuah tayangan televisi fenomenal, dan sebagainya. Lalu bagai-mana kalau kemampuan otak yang 88persen itu kita bisa manfaatkan? Hasilnya tentu saja lebih luar biasa.

"Alam bawah sadar kita sangat kuat sekali. Dalam proyeksi kehidupan, alam bawah sadar ini merupakan sebuah gudang yang luas, yang menyimpan semua pengalaman hidup kita, citra diri kita," demikian kata RB Sentanu, Direktur Mind Management Center dari Katahati Institute, Jakarta.

Nunu, begitu kerap dia disapa, mengungkapkan alam bawah sadar bisa terprogram. Dan, kata-kata yang negatif lebih cepat diserap dan tersimpan dalam gudang alam atau pikiran bawah sadar. Sebagai contoh, seperti yang dialami Yudi Sujana, seorang Direktur Lembaga Pendidikan Bahasa Asing Interlingua Bandung. Ketika duduk di sekolah dasar, guru Yudi terlihat putus asa melihat nilai matematikanya selalu empat. Sang guru pun berkata, "Kamu bodoh, tak bisa hitung-hitungan." Seiring pertumbuhan di-rinya, Yudi pun membenci matematika dan merasa bodoh di bidang yang satu ini. "Sebetulnya, ketika dibilang bodoh, tanpa disadari kita mencitrakan diri seŽbagai orang bodoh, dan alam bawah sadar mengambil alih pencitraan diri Anda. Setiap kali Anda mencoba menghitung dan merasa bodoh, alam bawah sadar memasuki pikiran Anda, mengatakan bahwa Anda tidak bisa matematika," urai Nunu.

Kekuatan alam atau pikiran bawah sadar begitu besar. Kekuatan pikiran bawah sadar dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tiga sampai tujuh kali lebih cepat, dengan skill relaksasi sebagai keuntungan tambahan. "Jika kita mam pu memanfaatkan gudang kehidupan kita yang begitu besar itu, bayangkan pula bagaimana kehidupan kita kelak," kata Nunu.

Dan, untuk menularkan ke-mampuan menyingkap kekuatan pikiran bawah sadar itu, pada 1988, bersama kawan-kawannya, Nunu mendirikan Katahati Institute. Lembaga ini bertujuan membantu dan melayani sesama manusia yang memiliki niat untuk berubah dan memutuskan untuk menjadikan dirinya sebagai titik-awal perubahan itu. "Terobosan teknologi penggunaan otak dan pikiran saat ini luas terbukti menentukan keunggulan seseorang dalam profesinya masing-masing," tutur Nunu.

Bagaimana teknik mengeksplorasi otak dan pikiran tersebut? Sebagai langkah awal, maka perlu dipahami kondisi otak manusia. Yakni, terbagi dalam empat bagian, beta, alpha, theta dan delta.

Kondisi delta adalah kondisi pada saat manusia sedang tidur. Kecepatan gelombang otak pada saat tidur hanya 0,5 sam-pai 3,5 putaran perdetik. Kondisi delta diperlukan oleh tubuh, karena pada saat itu tubuh kita melakukan peremajaan terhadap sel-sel tubuh. Tentu saja, dalam hal ini tertidur lelap, bila kondisi tidak dalam tertidur nyenyak, maka yang terjadi adalah sebagian anggota tubuh kita tidak melakukan peremajaan atau pe-nyembuhan, akibatnya kita sering mengalami rasa sakit saat bangun tidur.

Kondisi theta adalah saat gelombang otak manusia mencapai 3,5 sampai 7 putaran perdetik. Pada saat otak dalam kondisi theta, pikiran pun menjadi kreatif dan inspiratif. Keadaan theta adalah di mana kita bisa bermimpi, berkhayal, dan kalau kita sadari sejumlah filsuf ataupun ilmuwan seperti Thomas Alfa Edison menciptakan sebuah karya spetakuler dalam keadaan Theta. Keadaan theta yang sangat sugestif adalah saat tubuh menyembuhkan dirinya sendiri, seorang penderita kanker biŽsa sembuh karena menempatkan dirinya dalam kondisi theta. Keadaan theta bisa dibentuk pada saat meditasi. Dalam keŽadaan theta, pikiran akan menjadi saŽngat jernih, bahkan tubuh kita pun tak terasa, begitu juga dengan kaki, tangan.

Kondisi yang paling penting untuk menembus pikiran bawah sadar adalah alpha. Dalam kondisi alpha kita bisa membuka pintu gerbang menuju 88 persen kekuatan alam bawah sadar. Kondisi alpha adalah kondisi yang sangat rileks atau sama persis ketika kita berkhayal dan melamun. Kecepatan gelombang alpha mencapai 7 sampai 13 putaran perdetik. Yang membedakan kondisi alpha dengan theta adalah kesadaran kita, alpha masih merasakan anggota tubuh kita.

Sementara kondisi beta adalah kondisi di mana kita bisa sepenuhnya sadar. Dalam kehidupan sehari-hari saat kita terbangun dan memulai aktivitas, maka kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai kondisi beta.

Lalu bagaimana cara menembus pikirŽan bawah sadar kita? Cara yang mudah adalah membalikkan mata kita ke atas dan memejamkan mata, lalu pikiran pun membawa kita ke dalam kondisi alpha, melarutkan kita dalam suasana yang nyaman dan penuh ke dalam kedamaian. "Bayangkanlah sebuah rumah penuh kedamaian, rumah yang nyaman, rumah impian. Lelapkan diri kita ke sebuah kursi yang membawa kita merasa terlena dan sangat nyaman," tutur Nunu.

Kondisi alpha pun dapat terbangun melalui meditasi. Meditasi yang sempurna adalah kedua telapak tangan saling membuka, pada saat itulah energi alam akan menyatu dan berputar dalam keseluruhan tubuh. Ditunjang sebuah musik yang indah dan syahdu, suasana alpha akan mudah terbangun.

Dalam keadaan alpha, sebuah pintu ke alam bawah sadar terbuka. Saat masuk dan menjelajah alam bawah sadar, kita bisa memprogram hidup kita seperti apa yang kita mau. "Aku bergaji Rp 20 juta bulan April, bahasa seperti itulah yang harus kita ungkapkan," ungkap Yudi Sujana. Atau, "Aku menikah bulan Januari dengan Mariana."

Yang perlu diketahui, menurut Nunu, pikiran bawah sadar tidak pernah mengetahui perbedaan antara imajinasi dengan kenyataan. Pikiran bawah saŽdar tidak pernah memiliki mekanisme untuk mengetahui hal-hal yang nyata ataupun bukan. Ada empat hukum pikiran bawah sadar, yaitu positif, kalimat saat ini (present tense), bersifat pribadi, dan pengulangan. Dalam memprogram diperlukan emosi positif dengan mencurahkan segenap jiwa. Saat meditasi, kiŽta harus membayangkan bahwa keingi-nan kita benar-benar terjadi. Ketika menginginkan menikah, maka pikiran alam bawah sadar kita tuntun dan ciptakan sebuah visual yang indah. Begitu juga saat kita menginginkan gaji Rp 20 juta perbulan, maka visualisasikan daŽlam alam pikiran bahwa kita menerima uang sebanyak itu. Jangan sekali-kali menyebutkan kata-kata, "Aku ingin." Sebab Beta akan mengacaukan keinginan yang disebut dalam Alpha.

Sifat Beta selalu meragukan. Kondisi Beta akan mendorong kita untuk merasa ragu melakukan sesuatu. Karena itu, alam bawah sadar memerlukan sifat tegas, tentu saja dibarengi dengan unsur emosi yang kuat, dalam hal ini hindari emosi negatif, tetapi gunakan emosi posiŽtif.

Deni Puspahadi, Humas PT Indofood Tbk, telah membuktikan ucapan Nunu. Lajang yang selalu tampil energik ini mengaku mendapatkan manfaat yang saŽngat positif dari berlatih mengelola alam bawah sadar dengan meditasi. Setidaknya, kini ia lebih mampu berkonsentrasi, fokus pada persoalan-persoalannya, dan begitu mudah menyelesaikan persoalan yang dulu dianggapnya begitu rumit. Kini, jika dirinya diserang stres, dengan mudah ia mengusir rasa stres itu hanya dalam waktu satu menit. "Segalanya jadi terasa begitu mudah dan indah, seindah kita menjalani hidup ini," urainya penuh senyum. /SUKOWATI UTAMI DAN SRI WULANDARI





Teknologi ikhlas – Holistic Success


FEMINA

INGIN HIDUP BAHAGIA?
Atur Pikiran Anda

Kesuksesan, kesenangan, kedamaian dan kebahagiaan bisa kita raih dengan mengatur pikiran kita. Bagaimana caranya?

Malam belum terlalu larut. Suasana sunyi. Yana, sebut saja narnanya begitu, baru tiba di rumah. Menyadari tak seorang pun ada di situ, rasa gelisah, cemas. takut. tiba-tiba menyerbunya. Bunyi, "krekk... kletek...," bahkan derit kursi yang didudukinya spontan rnembuat dadanya berdegup kencang, wajahnya berubah tegang.

Perkara berpangkal sekitar dua tahun lalu. Di suatu malam, ruŽmah orang tua Yana didatangi sekawanan perampok. Yana dan keluarga memang selamat. Tapi. detik-detik mencekam itu terus menghantui pikiran Yana. "Saya jadi takut bila sendiri di rumah. Bila ada orang tak dikenal datang. saya selalu waswas, curiga." gadis muda itu mengungkapkan.

Semasa kuliah Anita menjatin hubungan dengan seorang pria yang sangat dicintainya. Hubungan itu kandas karena Anita mengetahui diam-diam kekasihnya memiliki wanita lain. Anita memang rnasih bisa merangkai hati lagi dengan pria lain, bahkan kemudian sampai kejenjang pernikahan. Tetapi. dalam menjalani perkawinannya itu. Anita selalu menaruh curiga kepada Aryo, suaminya. Dari rumah, Anita sering mengecek benarkah suaminya ada di kantor. Kalau tak ada, ia panik. Dan tak jarang ia memberondong teman sekantor Aryo dengan pertanyaan-pertanyaan, "Pergi kemana? Dengan siapa? Urusan apa? Kenapa?" Kalau Aryo pulang terlarnbat, Anita juga curiga. "Jangan-jangan bukan urusan kantor? Jangan-jangan ia kencan dengan wanita lain. Jangan-jangan ...." Begitu pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Kadang-kadang Aryo memaklumi isthnya. Tapi, terkadang kecurigaan tak beralasan istrinya itu menjadi pemicu pertengkaran mereka.

Walau tidak serupa, mungkin Anda pernah mengalami perasaan, keadaan yang mirip-mirip seperti ini. Bukan tak mungkin aktivitas dan kehidupan Anda pun jadi ikut kacau. Kalau Anda mengalami masalah seperti ini, Anda bisa mengatasinya tanpa perlu bantuan orang lain. Anda bisa membuat diri Anda tenteram, nyaman, damai, bahagia. dan hidup lebih baik. Apa kuncinya? Semua ada di pikiran Anda!

Apa itu pikiran?

Semasa diberi kehidupan, otak kita tidak pernah berhenti bekerja dan di situ selalu terjadi pikiran. Coba saja perhatikan. Ketika Anda mengobrol dengan teman. pasti Anda berpikir. Ketika menulis surat untuk kekasih, membaca koran, menonton televisi, Anda juga berpikir. Saat melamun, saat bermimpi dalam tidur. tetap saja ada yang berputar-putar di kepala Anda.

"Pikiran (mind) adalah suatu proses psikologis yang terorganisir dan disadari. Proses ini berhubungan dengan pengalaman dan terkait dengan lingkungan. Pengalaman itu berhubungan dengan apa yang didengar (audio), dilihat (visual), dan dirasakan (kinestetis)," Dra. Endang Retno Wardhani, psikolog, menjelaskan. Contoh, mata kita melihat setangkai bunga. Otak menangkap rangsangan visual itu dan menerjemahkannya sebagai setangkai bunga. Ketika otak mengolah setangkai bunga itu denŽgan menambahkan penilaian lain, seperti. 'bunga itu berwarna merah', 'warnanya cantik sekali', maka proses pengolahan inilah yang disebut pikiran. Sama halnya bila kita mendengar seekor anjing menggonggong. Otak menerima rangsangan audio itu. Ketika otak mengolah dan menambahkan dengan penilaian seperti, 'anjing itu galak, jangan-jangan nanti saya digigit', maka proses ini juga termasuk pikiran.

Sandy MacGregor dalam bukunya Piece of Mind, menulis bahwa pikiran bisa dibedakan menjadi dua, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Pikiran sadar adalah keadaan sekarang di mana kita aktif bertindak. Dalam aktivitas sehari-hari kita lebih banyak menggu-nakan pikiran sadar. Sedangkan pikiran bawah sadar bisa dikatakan sebagai tempat disimpannya berbagai pengalaman-pengalaman yang kita rasakan, kita alami sejak kecil dulu. Dengan kata lain, pikiran bawah sadar bisa diibaratkan sebagai bank me mori. Karena itu, kalau dipersentasikan, pikiran sadar hanya me-nempati 12%, sementara pikiran bawah sadar menempati 88%.

Apakah pikiran pria dan wanita berbeda? "Pada prinsipnya pikiran itu tidak dibedakan oleh jenis kelamin. Proses pikir yang berlangsung sama saja pada pria dan wanita. Yang agak mem-bedakan adalah cara berpikirnya. Pria cenderung berpikir lebih umum, sementara wanita cenderung berpikir lebih detail," jawab Endang yang sehari-harinya bekerja di Klinik Tumbuh Kembang dan Edukasi Terpadu. RS Pondok Indah, Jakarta, ini. Misalnya, wanita dan pria menjalin hubungan, lalu mereka berpisah. Si wanita berusaha menganalisis apa sebetulnya yang menjadi penyebab perpisahan itu, mengapa, masalahnya apa, dan sebagainya. Sementara pria jarang menganalisis sampai sejauh itu.

Pikiran perlu diatur

"Pengalaman-pengalaman yang mengendap dalam pikiran bawah sadar cenderung mempengaruhi bagaimana kita bereaksi terhadap kondisi berikutnya yang kita hadapi," ujar Endang yang juga dosen di Fakultas Kejuruan llmu Pendidikan, Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta, ini. Ambil contoh, seseorang baru lulus kuliah, kemudian melamar pekerjaan di suatu perusahaan. Setelah menjalani seleksi, ternyata ia gagal diterima. Maka, di sini ia mendapat pengala man yang disadarinya dan tidak menyenangkan. la coba lagi melamar ke perusahaan lain, dan gagal lagi. Pengalaman ini keŽmudian diendapkan di pikiran bawah sadarnya. Akhirnya, setiap ia akan menjalani tes memasuki pekerjaan, belum apa-apa ia sudah merasa bakal gagal, merasa dirinya tak mampu. Berarti, pikiran bawah sadarnya itu muncul ke permukaan, menimbulkan pikiran sadar. Reaksi dari timbulnya pikiran ini: ia tidak datang mengikuti tes. Akibatnya bisa beraneka ragam, ia akan menŽjadi pengangguran terus-menerus, tidak pernah punya uang unŽtuk memenuhi kebutuhannya, dan sebagainya.

Yang terjadi pada kasus Yana dan Anita hampirserupa. "Pada Yana, di dalam pikiran bawah sadarnya mengendap bahwa berada sendiri di rumah, atau kedatangan orang asing berarti berhadapan dengan kondisi yang tidak aman. Maka, ketika ia mengalami kejadian lain yang mirip, pikiran bawah sadarnya mengatakan bahwa dulu keadaan ini berbahaya," kata Endang.
Sementara pada Anita, yang diendapkan di pikiran bawah sadarnya adalah laki-laki suka berbohong, tidak dapat dipercaya. Pikiran inilah yang selalu dimunculkan ke pikiran sadarnya setiap saat memantau gerak-gerik orang yang dicintainya walaupun pria itu sudah menjadi suaminya.

"Kalau pikiran-pikiran negatif ini dibiarkan, apakah orang itu bisa hidup dengan ketenangan, kenyamanan, bahkan kebahagiaan? Tentu saja tidak! Karena itulah, mengapa pikiran perlu diatur. Sebab, pikiran kitalah yang menilai suatu kondisi itu positif atau negatif," Endang menegaskan.

" Pikiran bawah sadar itu ibarat sebidang tanah yang subur. Apa pun benih yang ditabur di situ akan tumbuh, jadi ia tidak perŽnah memilih apakah benih yang ditabur adalah benih yang baik atau buruk. Sementara pikiran sadar diibaratkan sebagai tukang kebun. Memilih dengan hati-hati apa yang tumbuh di sebidang tanah yang digarapnya adalah tanggung jawabnya," ujar RB. Sentanu, Direktur Mind Management Centre (MMC), ternpat yang memberikan pelatihan untuk mengolah pikiran, yang berlokasi di Bintaro, Jakarta.

"Yang perlu disadari, kita tidak bisa mempunyai pikiran poŽsitif dan negatif pada saat yang bersamaan. Salah satunya pasti lebih dominan," tegas Sentanu, Karena pikiran adalah hasil dari kebiasaan, maka kitalah yang bertanggung jawab untuk selalu memastikan bahwa hanya pikiran dan perasaan positif yang menguasai pikiran kita. Untuk itulah, maka pikiran perlu diatur," lanjut Sentanu.

Bisa kita kendalikan!

"Pikiran merupakan satu hal yang sepenuhnya kita sadari, maka pikiran bisa kita kendalikan dan kita tata. Untuk mengaturnya, kita harus bisa melihat dan menilai pengalaman yang kita alami secara objektif. Misalnya, kalau gagal menjalani seŽleksi penerimaan peketjaan, kendalikan pikiran bahwa, 'Saya se benarnya mampu, bukannya tidak mampu. Mungkin waktu itu kondisi saya sedang tidak prima, sehingga ketika menjalani seleksi saya tidak bisa maksimal.' Pikiran-pikiran positif seperti inilah yang coba dimunculkan dari pikiran bawah sadar kita ke pikiran sadar. Dengan demikian, kita bisa yakin bahwa sebenar-nya kita mampu, kita bisa mengoptimalkan apa yang ada dalam diri kita," Endang menjelaskan.

Pada kasus Yana bisa dicoba dengan memunculkan kem-bali perasaan-perasaan tenang, aman, yang dulu pernah dialami nya yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar ke pikiran sadar. Perasaan ini bisa membantunya ketika ia harus berada sendirian di rumah atau di tempat lain. "Kemudian ia bisa mencoba dengan memberanikan diri menghampiri tamu yang datang. Dari situ bisa saja kemudian ia memperoleh pengalaman positif bahwa ternyata tidak semua orang yang datang berniat berbuat jahat kepadanya. Bisa saja orang itu hendak mengantarkan sesuatu atau menanyakan alamat," Endang memberi saran.

Demikian juga halnya dengan Anita. Hidup bisa dijalaninya dengan penuh ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan, tidak selalu waswas, penuh curiga, tidak selalu menghadirkan pikiran-pikiran buruk tentang suaminya di pikirannya.
Apakah semua orang perlu mengatur pikirannya? "Ya, ka-rena tidak semua orang bisa melihat sesuatu dari pikiran posiŽtif. Ini tergantung dari pengalaman-pengalarnannya. Sementara itu, semua orang punya peluang yang sama untuk menghadapi pengalaman yang negatif dalam hidupnya. Maka, semua orang perlu bisa mengatur pikirannya supaya lebih terstruktur, meliŽhat segala sesuatunya secara lebih objektif. Dengan demikian, kita pun bisa menjalani hidup dengan lebih baik," kata Endang.




SATIVA KRISWARA:
"Saya tidak mudah cemas lagi"

"Dulunya, saya ini orangnya grabak-grubuk. Di kantor, kalau diberi tugas oleh atasan, misalnya diminta segera membuat laporan, saya bisa panik. Akibatnya, pekerjaan yang saya lakukan malah tidak beres. Yang mau cepat malah jadi lambat. 'Penyakit' saya yang lain, kalau dipanggil menghadap atasan deg-degan. Yang ada di pikiran, 'Aduh, saya buat salah apa?'" Sativa Kriswara, Marketing Support Manager Worldbook ini mengungkapkan. Selain itu, wanita berusia 40 tahun ini juga mengaku bahwa dirinya bila punya perasaan marah, kecewa, sedih, lebih banyak dipendam. " Kalau mendapat yang tidak enak, saya bisa terus memikirkannya sampai saya jadi tidak tenang, ada beban dalam pikiran," ujarnya.

Namun, setelah Sativa mengikuti latihan mengatur pikiran seperti yang dipraktekkan di MMC, dalam bekerja ia tidak lagi grabak-grubuk.. "Kalau dapat tugas, saya bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa rasa senewen. Bila dipanggil atasŽan, saya juga lebih santai, tenang, tidak memikirkan yang buruk-buruk. Jadi, saya tidak merasa stres lagi," ujarnya tersenyum.

Sekarang, setiap ia merasa stres atau senewen, di mana pun Sativa berada, dengan mudah ia bisa mengatasinya. "Biasanya, saya mencoba untuk rileks, tarik napas, diam sebentar. Setelah itu, saya bisa merasa nyaman kembali, stres pun hilang. Kadang-kadang proses itu malah bisa saya lakukan spontan," katanya.

Setelah mengikuti pelatihan, Sativa berusaha menerapkan yang diajarkan. "Saya selalu melakukan meditasi pada pagi hari setelah shalat subuh dan setelah shalat isya. Waktunya sekitar 15-30 menit. Sekarang setiap menjalani hari-hari saya, saya selalu merasa tenang," kata Sativa yang kini juga jadi bisa membaca buku lebih cepat dan lebih khusyuk dalam shalat. "Sebelumnya, untuk shalat khusyuk 'kan sulit sekali. Pasti saja saya bisa mendengar bunyi apa yang ada, atau pikiran berjalan ke mana-mana. SekaŽrang, selain hidup saya lebih tenang, saya juga merasa leŽbih dekat dengan Tuhan," tutur Sativa kembali tersenyum.



ENDANG RETNO WARDHANI:
"Saya bisa lebih langsing"

"Saya menyadari bahwa diri saya temperamental dan mudah meledak terutama bila di rumah," Endang (37 taŽhun) mengungkapkan. Setiap ingin bepergian, bila suaminya terlalu santai, atau datang terlambat, maka Endang bisa segera 'naik darah'. Temyata, setelah mengikuti pelatihan dan mempraktekkannya di rumah setiap hari, Endang merasakan temperamennya lebih bisa dikendalikan. "Saya tidak mudah meledak-ledak lagi. Kondisi ini 'kan selain baik untuk saya juga untuk orang-orang di rumah," ujar ibu tiga anak yang rajin melakukan meditasi pagi hari dan malam hari sekitar 10 -15 menit ini, sambil tersenyum. "Kadang-kadang di antara waktu kerja saya juga melakukannya bila sedang tidak ada pasien," wanita yang berprofesi psikolog ini menambahkan.

Bekal latihan mind management yang pernah ia ikuti itu pun ia rasakan membantu pekerjaannya sebagai psikolog. "Kepada seorang pasien, saya mencoba menerapkan latihan-latihan menata pikiran yang saya lakukan untuk dipraktekkannya. Ternyata, ini membantu terapi yang saya jalankan. Biasanya 'kan psikolog hanya mendengarkan ke-luhan, kemudian menganalisis lalu memberi penilaian bahwa si pasien ini begini, begitu. Dengan latihan mengatur pikiran, si pasien jadi tahu permasalahan yang sebetulnya di-hadapinya dan ia bisa tahu bagaimana cara mengatasinya sendiri," Endang menjelaskan.

Manfaat lain yang dirasakannya adalah keinginan-keinginannya bisa terwujud. "Yang terjadi dalam hidup ini sebenarnya bukan suatu kebetulan, tapi bisa kita program di pikiran. Karena dalam melakukan sesuatu itu sebenarnya kita bisa memprediksinya. Kalau saya melakukan ini, maka saya bisa sampai di sini," ujar Endang yang sehari-hari menangani Klinik Tumbuh Kembang dan Edukasi Terpadu, RS Pondok Indah, Jakarta, ini.

"Kalau saya pikir-pikirlagi, klinik ini bisa ada karena dulu saya pernah punya keinginan mempunyai klinik yang bisa membantu permasalahan orang lain seperti yang sekarang ini," kata Endang yang biasa membuat catatan-catatan keinginannya. "Keinginan itu saya program di pikiran saya. Dan setiap melakukan relaksasi, saya coba rasakan keber-hasilan yang bakal dicapai," lanjutnya.

"Kini yang sedang saya program adalah saya ingin lebih langsing. Soalnya, berat saya sempat naik delapan kilo!" ujarnya tertawa. Caranya? "Saya memakai patokan celana jins kesayangan saya yang sekarang sudah tidak muat lagi. Saya bayangkan saya bisa memakai celana jins itu lagi," tuturnya.
Hasilnya? "Dalam satu setengah bulan saya sudah bisa turun 3 kg. Saya tidak diet, makan saya tetap seperti biasa. Tapi, saya merasa sepertinya metabolisme dalam tubuh saya mengikuti apa yang saya program dalam pikiran saya," tuturnya.




FIT
(Maret 2000)

BERPIKIR EFEKTIF BERKAT MIND MANAGEMENT

Memberdayakan Pikiran, Memaksimalkan Potensi Diri


Segaia keluhan dan masalah bersumber dari pikiran. Apabila pikiran Anda dikelola dengan baik, dapat memunculkan kekuatan yang sanggup membebaskan Anda dari berbagai masalah.

Saat Anda dilanda masalah, sesungguhnya itu berawal dari respons Anda terhadap apa yang pernah Anda lakukan. Masalah yang merupakan harnbatan yang terakumulasi, seringkali bermula dari harnbatan kecil saja namun dirasakan sebagai suatu kesulitan yangtak mudah dipecahkan. Apabila Anda punya cara pandang yang salah terhadap harnbatan dan menjadi suatu ‘gaya hidup' Anda, maka masalah demi masalah seakan takjenuh menghampiri. Kondisi ini memicu kerasnya kerja jantung dan akibatnya Anda bisa kena stres. Menurut Erbe. Sentanu, Direktur Mind Management Center, sesungguhnya segala permasalahan itu muncul lantaran pikiran kita belum diberdayakan.

Mind Management Centre (MMC), -semacam jasa pelatihan- yang berkantor pusat di Bintaro, Jakarta Selatan, menawarkan latihan-latihan untuk merangsang orang agar dapat mengatur pikirannya. 'Klinik' ini menggunakan suatu metode agar kita mampu mengelola pikiran, sehingga fungsi otak menjadi optimal dan keluhan tak lagi pernah terdengar.

Usaha memberdayakan pikiran

Dari berbagai pengamatan para ahli, diketahui ternyata banyak orang belum rnengoptimalkan potensi otaknya. Richard Leviton, seorang peneliti otak mencatat, baru sekitar 4 sampai 10 persen saja kapasitas otak yang kita gunakan. Terlebih di zaman kini di mana pekerjaan semakin terspesialisasi kita menjadi terbiasa berpikir sebatas bidang kita saja. Setiap hari kita disJbuki urusan rutin yang cenderung tak memungkinkan kita 'menjenguk dunia lain'. Jika kondisi ini terus-menerus berlangsung, tanpa upaya untuk merambah pelbagai segi kehidupan yang dapat tnemperkaya kita, maka lambat laun otak menjadi tumpul. Potensi besarnya cuma mengendap dan tersembunyi di dasar diri. Padahal di situlah terletak kekhasan manusia dibanding makhluk lainnya. Apabila ciri khas itu tak dimanfaatkan, alangkah ruginya!

Dilihat secara garis besar, pikiran manusia dapat dibedakan menjadi dua; conscious mind (CM) atau pikiran sadar (12%) dan subconscious mind (SCM) atau pikiran bawah sadar (88%). CM mampu mengakomodasi segala aktivitas sehari-hari termasuk ilmu pengetahuan (science). "Pada pokoknya, conscious mind memakai raga kita sebagai instrumen. la adaiah keinginan, deŽsire, merupakan insting, yang meliputi 4 komponen, yaitu rasa ingin rnakan minum, tidur, rasa takut atau cemas, dan seksualitas. Rangsang-an atau impuls yang ditangkap panca indera rnenimbulkan suatu rasa, lalu keinginan, dan action," ulas dr. Bambang Setiawan, SpB & SpBS, ahli bedah umum dan syaraf R5. Fatmawati, Jakarta yang juga aktif di Pusat Pelatihan Meditasi Anand Ashram.

Aktivitas yang rutin dilakukan, juga pola hubungan sosial yang terbentuk cuma memanfaatkan bagian permukaan pikiran (CM) ini.

Akibatnya, apabila seseorang terbentur hambatan, acapkali dianggap sebagai masalah, karena pikiran tak lagi mampu mencernanya. Padahal sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya di dunia ini, pikiran manusia tidak hanya sebatas itu. Masih ada SCM yang jauh lebih besar prosentase dan kemampuannya.

SCM merupakan pikiran bawah sadar di mana segala ingatan, kebiasaan, rencana, dan keingiŽnan tersemai dan tumbuh menjadi kenyataan. "Seperti tanah pertanian, apa pun yang ditanam bisa tumbuh subur di sini," Sentanu beranalogi. Segala yang tertanam di dalam SCM meruŽpakan unsur pembangun self image atau citra diri yang diyakini sebagai kepribadian seseoŽrang. Citra diri Anda terbangun melalui proses yang dimulai dari pengalarnan masa kecil yang tertanam dalam alam bawah sadar, termasuk pula anggapan orang tentang Anda yang se-cara tak sadar Anda tanamkan dalam diri.

"Segala hal yang bersifat keindahan atau berintikan 'rasa' dioperasikan oleh otak
kanan," jelas Pak Nunu.

Sayangnya, seringkali seseorang menyangka bahwa apa yang ada pada diri, citra dirinya, meŽrupakan suatu yang tetap dan tak dapat diubah. Karena itulah secara tak disadari pula kapasitas SCM-nya mengendap dan tersembunyi. PadaŽhal 'lahan pertanian' ini dapat diolah dengan cara mengganti 'tanaman' yang tak disukai deŽngan yang disukai saja. Artinya, anggapan yang kurang baik mengenai diri sendiri bisa kita ubah menjadi lebih baik, sesuai keinginan. Sentanu menyebut prosesnya sebagai SCM reprogramming. Apapun yang Anda tanam di lahan ini akan tumbuh dan berkembang. Asal bersungguh-sungguh dan cukup sabar, sebab bagaimanapun butuh proses yang tidak sekejap. "Manusia tidak seperti komputer. Kalau komputer mudah saja di-reinstall, program lama di-hapus..., selesai. Menghapus program dalam otak manusia yang melekat dalam alam bawah sadar tidaklah mudah.

Harus intens, butuh waktu. Inilah yang disebut self-transformation," jelas budayawan Dr. Komaruddin Hidayat, Direktur Eksekutif Yayasan Pararnadina. "Karena itu, sebaiknya diadakan juga aktivitas tambahan di luar paket yang disediakan oleh banyak pusat pelatihan pikiran dan meditasi, agar efisien. Misalnya pertemuan rutin dengan peserta. Bisa juga diberikan semacam bacaan penuntun secara berkala, atau kaset. Itu semua se-bagai maintaining, agar dapat mempertahankan bahkan meningkatkan apa yang sudah diperoleh," tambahnya. Karena begitu tingginya potensi yang dikandung SCM, maka apabila ia dieksplorasi, bukan mustahil akan muncul daya pikir yang powerful. Dan kondisi ini bukan tak mungkin menghantarkan seseorang berada dalam suasana superconcsious. Di mana seluruh daya pikir terpakai secara seimbang.

Melatih pikiran bawah sadar

Untuk dapat memunculkan kekuatan SCM, diperlukan pemahaman akan tahap-tahap kesadaran pikiran (brainŽwave state). Dalam program paket yang ditawarkan MMC, yakni Mind Management Training atau disebut juga Work and Playshop, peserta diperkenalkan tahap-tahap ini.Tahap beta atau the doing action state, alpha atau relaxation state, theta atau creativity and inspiration, dan delta atau deep dreamless sleep. Delta adalah tahap terdalam di mana seseorang dikatakan telah memunculkan kekuatan pikiran bawah sadarnya secara penuh karena ia mernbiarkan filter antara CM dan SCM-nya (Reticu/ar Activating System) terbuka. Dengan begitu pemunculan SCM menjadi lebih fleksibel. Kebalikannya, yakni beta, adalah tahap di mana seseorang hanya melakukan aktivitas sehari-hari yang menggunakan fisik dan rasio karena ia membiarkan filternya tertutup.

Latihan-latihan yang terangkum dalam paket berbentuk permainan. Sifatnya membebaskan imajinasi dan melatih kepekaan serta ketajaman alam bawah sadar. Disertai iringan musik klasik peserta diminta berpasangan dan dibebaskan berkomunikasi dua arah secara terbuka untuk saling menceritakan hal yang baik dan tak baik tentang diri sendiri. Lalu digelar latihan untuk membuktikan bahwa mereka dapat mengatur pikiran sendiri dengan cara mengirimkan energi pikiran mereka itu ke arah sebuah cincin yang digantungkan pada sehelai benang, sehingga cincin tersebut bergerak sesuai perintah atau kemauan pikiran masing-masing peserta.

Dengan iringin musik dinamis yang menghentak, peŽserta juga diberikan latihan-latihan gerakan fisik untuk merangsang keseimbangan aktivitas otak kanan (bagian otak yang berhubungan dengan rasa, contohnya seni dan sastra) dan kiri (bagian otak yang bertanggung jawab pada aktivitas kuantitatif dan terstruktur}. Dapat dikatakan otak kanan merupakan 'pintu' terdekat menuju pemunŽculan SCM. Kalau selama ini kita terbiasa lebih banyak mempergunakan otak kiri dalam kegiatan sehari-hari, maka kita dapat meningkatkan kualitas hidup dengan menyeimbangkan keduanya. Dengan begitu kekuatan SCM bisa naik ke permukaan.

Para peserta training juga dibebaskan mengungkapkan sesuatu lewat gambar dan warna dengan mendengarkan beberapa instruksi. Dari sini peserta dapat memŽbuktikan bahwa dengan menghayati satu pekerjaan, bukan berarti pikiran peka hanya pada pekerjaan itu, melainkan juga terhadap situasi sekitarnya. Sebab ketika sedang asyik menggambar dan mewarnai, terbukti peserta juga dapat mendengarkan dan memahami instruksi yang diberikan.

Latihan atau praktek memang merupakan unsur yang tak boleh ditinggalkan. Komaruddin memaparkan, "Ada beŽberapa hal yang perlu diperhatikan agar aktivitas kelompok semacam ini efektif, yaitu pertama, perlu penjelasan kognitif teoretis. Bagi orang kota, sulit mengikuti tanpa pertanggungjawaban teoretis. Karena itu, ilmu psikologi dan filsafat diperlukan untuk meyakinkan orang. Juga perlu adanya praktek agar peserta dapat rnengalami sendiri apa yang diinformasikan. Ini melibatkan olah batin dan tubuh. Selain itu juga ada kemauan serta kesungguhan." /Henny Purnama S.

 

Oleh-Oleh Peserta Pelatihan

Aldin Hardjasoemantri (31 tahun, Musisi/Pianis):
"Kita bisa 'menyetir' masaiah."

Karena ingin memperbaiki kualitas kehidupan spiritual, maka .saya ikut program ini. Saya jadi lebih 'pede'. Lebih enteng dan merasa skill saya bertambah.
Ternyata dalam diri setiap orang ada power luar biasa. SubŽconscious yang 88°/o itu mampu melakukan perubahan yang beŽsar sekali dalam kehidupan kita. Dengan mengolah yang 88% ini, kita lebih fokus. Nggak perlu melakukan apa yang nggak perlu. Kita dapat memprogram apa saja yang kita mau. Saya jadi lebih riieks dan tidak menganggap masalah yang ada sebagai masalah beŽsar. Dulu saya memang sempat kacau, tetapi saya pikir, mengapa saya 'disetir' oleh masalah-masalah dunia? Mengapa bukan saya yang menyetir masalah-masalah itu? Setelah mengikuti Mind Management piayshop, saya menjadi seperti aliran sungai, mengalir tenang. Tidak lagi berusaha melawan atau menolak keras masalah. Kalau kita menghadapi suatu masaŽlah, lalu kita resist, bertahan atau menolak, maka kita akan sakit, menimbulkan beban di hati. Lebih baik hadapi, masuki, dan selesailah masalah itu.

Sebagai pemain dan pengajar piano, saya menjadi lebih bisa mendalami pemikiran murid saya. Oh, anak ini kesalahannya di sini. Oh, anak ini sebetulnya perlunya ini, bukan itu, buat apa saya kasih yang itu.

Lukita (52 tahun, ibu rumah tangga):

Saya merasa lebih sabar dan bisa mengendalikan diri. Di situ kita memang diajarkan untuk selalu berpikir positif. Bahkan sama musuh pun kita bisa tidak sakit hati. Workshop ini melatih ingatan dan pemikiran kita menjadi murni.

Zacharias Adiwijono (62 tahun, Direktur PT Guna Elektro):
"Merasa lebih muda..."

Di sini kita diajarkan bermeditasi, berdoa rnenurut agama masing-masing, berkreasi, dan sebagainya. Pelajaran yang diberikan dalam training ini harus sering dilatih kemŽbali di rumah. Percaya nggak, setelah ikut program ini saya merasa jadi lebih muda! Kalau dulu saya kerja butuh energi 100 misalnya, sekarang curna 50, jadi saya bisa menghemat energi untuk diri sendiri. Karena itu, I feel younger. Padahal saya dulu sempat menertawakan Pak Nunu, Iho! Eh, ternyata apa yang dia ucapkan benar.

Piryanti Sjarif (36 tahun, Bussines Manager Service Quality Centre, Jakarta):
"Tinggal selangkah lagi."

Awalnya saya nggak begitu tertarik mengikuti workshop ini. Tetapi setelah sedikit baŽnyak mendapat informasi, saya ingin tahu dan akhirnya ikut juga. Pekerjaan yang saya geluti sekarang menuntut saya untuk banyak berhubungan deŽngan klien. Kalau sebelum ikut MM Workshop, saya sering merasa ada konflik yang muncul saat harus berhadapan dengan berbagai macam orang dari beragam karakter, sekarang nggak pernah lagi!.

Karena saya selalu melihat apa pun dari segi positifnya. Saya menerapkan prinsip positive thinking seperti yang telah diajarkan. Pernah secara nggak sadar saya menemukan coretan yang saya buat ketika baru saja selesai mengikuti MM training beberapa waktu lalu. Ternyata keinginan yang saya cantumkan dalam catatan harian itu telah tinggal selangkah lagi tercapai. Kini saya sedang berada di jalan rnenuju terwujudnya keinginan itu!


 

Other articles

Holistic Health
Spirituality
Enlightened Human Capital
 


www.e-katahati.org